Senin Tak Terlupakan "Undangan Pertemanan Dari Amelia Zahra" - Perasaanku

Sunday, September 3, 2017

Senin Tak Terlupakan "Undangan Pertemanan Dari Amelia Zahra"

Senin Tak Terlupakan

Senin Tak Terlupakan "Undangan Pertemanan Dari Amelia Zahra"


"Senin Tak Terlupakan"


Undangan Pertemanan Dari Amelia Zahra
    Sabtu malam, atau biasa disebut malam minggu. Seperti biasanya, setiap malam minggu pasti kota Jakarta akan ramai, walaupun sudah pukul 8 malam, tapi tetap saja ramai. Malah mungkin untuk sebagian orang, pukul 8 malam adalah waktu untuk memanaskan kendaraan, bahkan terkadang ada juga yang baru pulang dari kantor.
    Berbeda denganku, aku biasanya setelah maghrib langsung meluncur ke markas. Memang setelah pindah rumah, jarak dari rumah menuju markas menjadi lumayan jauh. Saat belum pindah mungkin tidak sampai 1 menit sudah sampai, itu pun dengan jalan kaki. Tapi sekarang, jarak menjadi lebih jauh. Apa lagi ini malam minggu, sudah pasti jalanan macet, untung saja aku hafal gang - gang kecil yang biasa ku gunakan untuk kegiatan darurat jika memang harus buru - buru.

    Sesampainya di markas, markas masih terlihat sepi, hanya beberapa orang saja disana, jika tidak salah saat itu hanya ada tiga orang, termasuk diriku. Mereka berdua sibuk dengan handphone masing – masing, akupun akhirnya ikut - ikutan mereka, aku membuka handphone lalu memutar musik kesukaan ku pada saat itu. Green Day - 21 Guns, itulah lagu yang ku putar.
    Masih teringat dengan jelas tahun berapa aku mulai menyukai lagu ini. Aku mulai menyukai lagu ini pada saat kelas 11, sebenarnya sudah sering mendengarkan lagu ini dari orang lain, namun entah kenapa aku mulai menyukainya pada saat kelas 11, bukan awal - awal lagu ini keluar. Mungkin aku kudet. Memang sih, kata teman sekolah ku aku ini orangnya kudet.

    Sedang asik mendengar lagu 21 Guns yang dari tadi ku ulang - ulang terus, tiba - tiba terdengar suara PING, dan sedikit getaran di tambah ada tanda lampu notifikasi warna merah dari handphone, yang menandakan ada pesan BBM. Tapi aku tidak menghiraukan, fikir ku itu hanya broadcast yang tidak jelas. Tidak berselang lama, ada lagi dan lagi, akhirnya aku menyerah, dan membuka aplikasi BBM. Ternyata ada pesan dari salah satu teman kelas ku Nanda:
~
Nanda
    “Invite Ricky Dwi Cahyo 25664531, ganteng, lucu, rajin menabung, tapi galuan.”
    “Gua promot juga dong nan, masa ricky doang gua kaga.” kata ku.
    “Gantian tapi ya?” tanya Nanda.
    Balasnya agak lama sekitar 10 menit setelah aku meminta untuk di promot, tapi dia masih promot orang lain. Kira - kira teman BBM kalian ada yang seperti itu juga? Pasti ada.
    “Iya, iya slow.” kata ku.
    “Gimana kata katanya?” tanya Nanda.
    “Terserah lu aja nan, enaknya gimana.”
    “Kalo terserah gua mah, mending kaga.” katanya.
    “Iya Nanda Iya, terserah nanda, yang penting bagus kata katanya, nanti gantian kok.” jawabku.
    “Fahreza 250DFFAB, bawel” broadcast dari Nanda.
    “Buset, gak niat amat lu nan promot nya.” kata ku.
    “Bodo, gantian buruan!!!” katanya.
    “Besok aja nan.” jawabku.
    “Kan udah janji lu, katanya mau gantian!!!" di tambah emoticon wajah orang marah.
    “Iya gua janji bakal gantian, tapi gua gak janji akan promot sekarang.” kata ku.
    “sekarang aja zaaaaaaa” kata Nanda.
~
    Tanpa ku baca pesan terakhir dari Nanda, chat ku dengan dia langsung ku end chat. Kan memang aku tidak berjanji akan langsung gantian promot, tapi kenapa dianya malah marah. Jadi intinya aku tidak salah kan? Tapi terserah kalian sih ngangep aku salah atau tidak. Tapi aku sering salah di mata dia, dia bukan Nanda, tapi dia hehehe...

    Ada banyak udangan yang masuk, tanpa berfikir panjang langsung ku terima semua, tanpa terkecuali, yang namanya alay pun tetap ku terima, karena aku orang nya memang tidak sombong dan suka berteman. Bahkan satpam di komplek ku saja ku anggap teman, jadi terkadang jika gerbang komplek sudah di tutup, aku masih bisa masuk, walaupun aturannya sudah tidak boleh ada yang masuk kecuali sudah lapor dahulu.
    Pernah saat itu jumat malam, aku pulang kira – kira pukul 12 lewat, aku minta ke satpam untuk di bukakan gerbangnya:
    “Pak Usman, tolong bukakan gerbangnya dong nanti keburu pintu rumah saya di kunci.” kata ku, kepada Pak Usman penjaga gerbang komplek.
    “Sebentar mas”
    “Sudah mas.” katanya.
    “Terima kasih Pak. Saya pulang dulu.” jawabku.
    “Iya, hati – hati.”
    Dan akhirnya akupun melewati gerbang yang sudah tertutup itu, dan segera menuju ke rumah. NAMUN!!! Rumah sudah terlanjur terkunci, ku coba panggil - panggil penghuni rumah, tapi tidak ada yang menyaut, karena ku anggap usaha ku sia - sia, akhirnya aku pergi lagi.
    “Pak, bisa tolong bukakan lagi.” pintaku kepada Pak Usman.
    “Kenapa tidak jadi pulang mas?” tanya Pak Usman, yang tadi sedang duduk mencoba untuk berdiri untuk membuka gerbang.
    “Udah di kunci rumahnya.” jawabku.
    “Ohh, tidur di rumah saya saja mas.” katanya.
    “Tidak usah pak, ngerepotin nanti, saya tidur di rumah teman aja.” jawabku.
    “Ohh yaudah, hati – hati.”
    “Siap! Laksankan.” dengan posisi masih di atas motor, tapi mencoba untuk hormat dan posisi siap.
    Benar - benar andalan banget satpam komplek yang satu ini. Aku memang bisa akrab seperti ini dengan satpam komplek karena sering nonton sepak bola bareng, dan tidak lupa jika nonton bareng pasti membawa makanan ringan untuk menemani kami. Bukan hanya satpam komplek, satpam sekolah juga, jadi jika telat kadang masih bisa masuk. Tapi lewat jalan rahasia. Karena rahasia maka tidak akan ku ceritakan.

    Handphone kembali bergetar, dan dengan datangnya teman – teman yang dari tadi sudah aku tunggu, Aku datangi mereka sembari membuka aplikasi BBM, ternyata ada pesan dari Amelia Zahra:
~
Amelia Zahra
    “Woi”
    “Siapa?” tanyaku, memang dia sedang tidak menggunakan foto profil, dan hanya sebuah nama.
    “Amelia.” katanya.
    “Amelia siapa?" tanyaku.
    “Amelia Zahra.” katanya lagi.
    “Amelia Zahra siapa?” tanyaku lagi.
    “Amelia Zahra temennya Karin!!!” katanya lagi dan lagi.
    “Temennya Karin banyak, elu yang mana emang?” tanyaku lagi dan lagi.
    Padahal tidak di minta, namun tiba - tiba dia mengirim foto dirinya sedang selfie.
    “Tuh foto gua, tau kan?” tanya dia.
    “Elu ini? Yang manggil gua di jendela kan?” tanyaku.
    “Iya iya, bener.”
    “Kenapa dan ada apa?” tanyaku.
    “Engga ada apa - apa si.” jawab Amelia.
    “ohh” kata ku, dan akhirnya hanya di balas dengan sebuah tanda R.
~
    Itulah awal percakapan aku dengan Amelia, yang akhirnya handphone kembali ku matikan, dan aku masuk kedalam percakap mereka yang baru saja merencanakan untuk jalan - jalan. Malam minggu adalah malamnya anak muda, keramaian dimana - mana, macet bukan jadi penghalang untuk menghentikan perjalanan.

    Saat sedang di jalan, aku melihat Amelia entah dengan siapa, terlihat dia dibonceng perempuan. Yang kufikir pada saat itu, itu adalah kaka-nya. Tempat aku melihat dia di dekat terminal Pulogebang. Dulu pada tahun 2014, terminal itu belum selesai di bangun masih sepi, tapi sekarang sudah selesai, dan sekarang ramai. Apa lagi jika diperhatikan, terminal tersebut seperti stadion sepak bola.
    Niatnya aku ingin BBM dia, namun karena handphone sudah terlanjut ku matikan, akhirnya aku tidak jadi untuk bertanya. Jadi pada saat itu posisi motor dia di depan motor ku. Karena aku di barisan motor paling akhir, aku meminta Arif untuk mengejar rombongan yang di depan. Tidak berselang lama, motor ku dan motor yang Amelia tumpangi sejajar, aku melihat dia, dan sebaliknya. Kejadian yang mungkin tidak lebih dari 3 detik. Karena memang tujuan ku agar tidak terpencar dengan rombongan yang di depan, bukan untuk melihat Amelia.

    Setelah sampai di tempat tujuan, di daerah Cipinang, handphone kembali ku nyalakan, ternyata banyak pesan yang belum ku baca, dari Nanda, Karin, Amelia dan lainnya yang aku lupa siapa saja. Ku mulai membaca dari pesan Nanda, yang ternyata meminta untuk gantian di promot yang tadi belum aku promot:
~
Nanda
    “Za, mana promotnya?” tanya Nanda.
    “Besok, gua janjinya besok.” jawabku.
~

~
Karin
    “Za, lu lagi dimana? Tadi ketemu sama Amel?” tanya Karin.
    “Lagi di CI, iya, tadi gua kayanya ketemu sama orang yang manggil gua dari jendela nih rin.” jawabku.
~

~
Amelia Zahra
    “Tadi kita ketemu ya?” tanya Amelia.
    “Masa iya?” jawabku.
    “Iya, gua inget muka lu.” katanya.
    “Iya, tadi ketemu. Itu lu dari mana dan sama siapa?” tanyaku.
    “Kepo lu.” jawab Amelia.
    “Senyumin aja ya kan.” kata ku.
    “Lagian lu kepo banget.” katanya. Dan akhirnya aku hanya membalas dengan sebuah tanda R, mungkin sebagai pembalasan yang tadi. Mungkin.
~

    Jam menunjuk pukul 23.13 malam, jalan di Jakarta tidak lagi seramai tadi, hanya tinggal beberapa yang masih kuat bertahan, dan kami memutuskan untuk kembali ke markas. Seperti biasa, jika saat pulang pasti rombongan kami jalannya pelan, walaupun jalanan memang sudah sepi. Karena memang keselamatan yang di utamkan, dan aku sendiri sangat suka melihat lampu - lampu yang ada di kota Jakarta jika pada malam hari, rasanya indah. Seperti kembali ke waktu kecil.
< | > 

No comments:

Post a Comment