Sunday, August 20, 2017

Senin Tak Terlupakan "Senin, 14 April 2014"

Senin Tak Terlupakan

Senin Tak Terlupakan "Senin, 14 April 2014"


"Senin Tak Terlupakan"


"Bagi orang lain mungkin Kamu tidak istimewa
Tapi bagiku, Kamu yang paling istimewa."

Aku
    Namaku adalah Fahreza, lebih lengkapnya Maulana Fahreza. Golongan darah O, tidak takut kecoa, tapi takut dengan laba - laba. Cita - cita banyak, dari yang bisa dicapai dan tidak mungkin untuk dicapai.
    Hobi banyak juga, seperti futsal, sepak bola, memancing, menulis, berenang, walaupun sudah sering berenang, namun tidak bisa mengapung di air. Hobi ku yang terakhir adalah tidur, karena saat tidur, aku bisa berhenti memikirkan dirimu hehe.
    Tinggi badan? Terakhir aku mengukur sih sekitar 178-179cm, cukup tinggi. Alhamdulillah.

    Sekarang aku sedang duduk di depan meja komputer sembari memindahkan foto saat masih SMK, kenangan yang akan sulit terlupakan. Apa lagi kejadian yang akan ku ceritakan ini tentang masa - masa SMK. Dimana kisah ini akan di mulai ketika aku masih kelas 11. Karena di kelas 11 aku mulai mengenal dia.

    Ternyata foto sudah selesai di pindahkan, agak lama memang memindah foto yang ukuran nya cukup besar. Tapi tidak apa - apa, aku siap menunggu. Karena foto - foto ini kenangan bersama kalian. Kalian yang sudah aku anggap sebagai keluarga, dan kelas yang sudah ku anggap sebagai rumah ketiga.
    Kenapa rumah ketiga? Karena rumah pertama adalah rumah ku, dengan cat warna oren, rumah kedua adalah warnet, yang terkadang menjadi tempat tidur ku ketika pintu rumah sudah terkunci, dan rumah ketiga adalah sekolah.
     Malam ini sudah mulai larut, bahkan 20 menit lagi sudah berganti hari. Jadi sekian dulu berkenalan dengan aku. Sebenarnya masih banyak yang belum kalian tahu tentang diriku, tapi nanti kalian pasti akan tahu sendiri tentang diriku, jika membaca cerita ini. Dan kita akan memulai kisah ini pada hari Senin, 14 April 2014.


Senin, 14 April 2014
    Seperti biasanya, setiap hari senin ada upacara bendera. Yang tidak menggunakan topi atau dasi sudah pasti menjadi tontonan siswa siswi lain di depan, untung saja pada saat itu aku berpakaian lengkap, dengan dasi dan topi. Dan yang pasti menggunakan celana dan juga baju. Setelah upacara selesai ada waktu istirahat sekitar 5 menit, tapi pada saat itu aku langsung kembali ke kelas.
     Setelah sampai di kelas, aku langsung duduk. Tempat duduk ku itu di bagian paling belakang, dekat dengan jendela.
     Tidak berselang lama duduk, dari samping jendela tiba - tiba ada seorang perempuan memanggil:
    "Woi", aku pun langsung melihat ke arah jendela. Terlihat ada tiga perempuan di samping jendela. Lalu salah satu perempuan itu bilang:
    "Mana yang namanya Fahreza?" spontan, aku malah nunjuk ke arah teman yang di samping, padahal di dalam hati “Fahreza kan aku.".
    Seketika tiga perempuan itu pergi.
    "Barusan siapa?" tanya Rizki.
    Rizki ini adalah teman yang duduk di samping ku, yang menjadi andalan ku jika aku belum mengerjakan PR, atau sedang ada ulangan. Pokonya andalan banget, sering juga aku curhat ke dia.
    "Engga tau siapa." jawabku.
    "Lah kenapa lu tadi nunjuk ke gua?" tanya dia dengan heran.
    "Dia tadi nanya, mana yang namanya Fahreza, tapi gua nunjuk ke elu wkwkwkwk." jawabku sambil tertawa.
    "Anjirrr lu!!!" dengan nada keras. Hampir seluruh penghuni kelas melihat ke arah kami berdua.
     Tiba - tiba si Diego, nge jitak kepala kami, lalu bilang:
    "Itu udah ada guru, diem napa jangan berisik, dongeng nya di terusin nanti aja." katanya, sambil memalingkan badan ke depan.

    Bel istirahat berbunyi, tapi aku tidak pergi ke kantin, aku lebih memilih untuk mengerjakan PR yang sama sekali belum ku kerjakan. Dan si Rizki pergi ke kantin bersama Diego dan Anas.
    Tidak lama mereka kembali, Rizki langsung mendatangi ku lalu bilang:
    "Za, tadi waktu gua lagi turun lewat tangga pojok, diliatin sama anak kelas 12, gara - gara lu tadi nunjuk ke gua?"
    "Mana gua tau!" jawabku, tanpa menoleh ke arah Rizki. Karena aku sendiri masih sibuk mengerjakan PR. Walaupun PR yang ku kerjakan ini mencontek kerjaannya dia.
    "Pasti gara - gara yang tadi nih." kata Rizki.
    "Gara - gara yang tadi gua nunjuk ke elu?" tanyaku.
    "Iya.”
    "Harusnya lu tadi bilang ke mereka, kalo gua itu Rizki bukan Fahreza. Kalo perlu lu teriak deh. Lagian salah lu sendiri kan gak bilang." jawabku sambil menahan tawa.
    "Banyak alesan lu..." balas dia dengan nada kesal.
>

1 komentar